Langsung ke konten utama

Sepasang Kekasih.

Hidup selalu berpasangan. Kenyataannya begitu. Setiap raga di tubuh kita juga dipasangkan. Kanan dengan kiri.

Lantas, kenapa masih memilih sendiri?

Sendiri bukan masalah, bahkan dari dulunya kita juga sendiri, saat berdua itu cuma ilusi saling ingin memiliki tapi selalu ada pihak yang menyakiti dan tersakiti. Manusia emang berbakat untuk mengecewakan terlebih soal perasaan.


Mata yang dengannya bisa melihat keindahan, kadang di salah gunakan. Karena mata banyak hati yang patah, terlebih dari mereka yang menilai semuanya dari mata bukan dari hati. Iya, hati seseorang sapa yang tau. Bisa aja kita nilai dia baik padahal tidak, bisa pula penilaian kita tidak baik padahal sangat baik. Manusia emang jago perihal menilai tapi tidak semua penilaiannya benar. Terkadang keliru. Karna tidak ada ukuran yang pas dalam menilai apa yang dilihat mata dan apa yang dirasa hati.


Kalau hidup melulu tentang kesempurnaan yang dipandang mata. Lantas mereka yang tidak sempurna akan berpasangan dengan siapa. Kita terlalu naif, menginginkan kesempurnaan padahal kita semua tau tak ada manusia yang sempurna. Kita terlalu berekspektasi ingin pasangan yang terbaik tanpa melihat sudah sebaik apakan diri kita? Bukankah pasangan kita (kelak) pancaran dari diri kita.


Berpasangan itu tentang keseimbangan. Bagaimana bisa seimbang dan menyeimbangkan.


Seharusnya...


Sepasang kekasih itu ibarat kaki kanan dan kiri. Untuk berkomitmen mencapai suatu tujuan kedepannya. Mereka tak selalu berdampingan tapi selalu beriringan di langkah depan ataupun belakang. Mereka selalu bersama tak pernah sekalipun meninggalkan dalam situasi sesulit apapun.


Ketika mereka lelah, mereka bisa menghentikan langkah. Di pemberhentian langkah kaki mereka tak beriringan tapi bersebelahan yang menjadikan mereka seimbang. 



Tanpa kaki kanan atau tanpa kaki kiri, aku bukan apa-apa (meski ada dari mereka yang terlahir tanpa kaki mereka juga berjuang untuk hidup). Begitu juga aku tanpamu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya Bukan Aku by Aliciaandf

Perkenalkan ini "saya" bukan "aku" Dengan sakit kronis, sebab terkena tikaman tak kasat mata yang merangkul lalu menusuk . Dengan telinga menuli, mata memejam, dan hati lebam-lebam . Mengapa? Saya yang berdarah, Dia yang kamu rawat dengan cinta. Baiklah.. Tahun-tahun saya dan kamu sudah usang, hancur bahkan. Kamu baik selama itu. Tapi entah kenapa dimata ini pengkhianatan selalu menjijikan. Sengaja puisi ini tertulis "saya" . Karena "aku" terlalu akrab untuk kita yang terlanjur asing.

Aku Ini Siapa

Aku ini siapa? Terlalu dekat tapi tak punya tempat. Tidak asing tapi tak saling ingin. Aku ini siapa? Terlalu menaruh harap sampai lupa kalau kau tak terharap. Aku ini siapa? Yang memintamu lebih baik padahal kau sama sekali tak ingin lebih. Aku ini siapa? Terlalu ingin lebih tapi sayang nggak bisa memiliki. Aku ini siapa? Si keras kepala yang ingin memperjuangkan tapi bertepuk sebelah tangan. Aku ini siapa? Seorang yang selalu memintamu disini tapi kau memilih pergi.

Pemandian Babarsari (Kabupaten Langkat)

Jatuh cinta sama tempat ini dari spanduk yang di pampang dijalan sebelum masuk ke desa Pamah Simelir. Suatu desa yang terujung tapi mempunyai pesona alam yang indah. Disini kita banyak menemukan objek wisata yang tiket masuknya sangat murah. Tenang, aman dan udaranya sejuk berasa di Berastagi. Akhir tahun, libur natal jalan-jalan berdua sama saudara. Dari mulai pergi keluar dari rumah kita berdua belum tau bakal menuju kemana. Yang penting sih jalan-jalan. Dan akhirnya kita memutuskan ke Lau Kulab. Mengikuti petunjuk di jalan sampai lah kita di depan jalan menuju Lau Kulab. Anehnya kita berdua sama sekali tidak tertarik untuk menuju Lau Kulab. Malah ikut mobil ke depan dikit aja dari jalan masuk ke Lau Kulab. Nama objek wisatanya "Babarsari". Bapaknya senyum liat kita berdua sambil bilang, wisata ini bakal dibuka tahun baru dek:) nanti tahun baru kesini yaaa. Padahal aslinya kita berdua udah ngebet kali mau kesini. Sambil temen mengarahkan kereta ke arah Lau Kulab, sam...